Dihujani Aksi Ambil Untung, Harga Kedelai Berjangka Tersungkur

Ilustrasi – Pertanian kedelai. (Pixnio)

Editor: Yoyok – Jumat, 25 Maret 2022 | 09:15 WIB

Sariagri – o atau Chicago Board of Trade, Amerika Serikat (AS), dengan pedagang mencatat bahwa pasar telah menyerap gangguan pasokan dari wilayah Laut Hitam setelah invasi Rusia ke Ukraina sebulan lalu.

“Sepertinya pasar telah memperhitungkan bahwa akan ada masalah dengan jagung dan gandum yang keluar dari Ukraina,” kata Chris Robinson, pendiri Robinson Ag Marketing, seperti dikutip Reuters.

Gandum berjangka CBOT untuk kontrak pengiriman Mei turun 20 dolar AS menjadi 1.085,75 dolar AS per bushel atau gantang.

Harga kedelai berjangka juga melemah, tertekan aksi ambil untung setelah kenaikan tiga hari berturut-turut mendorong kontrak teraktif ke level tertinggi dalam hampir sebulan pada sesi Rabu.

Kejatuhan harga minyak mentah dan turunnya harga minyak nabati global menambah tekanan di pasar kedelai.

Harga kedelai berjangka CBOT untuk kontrak pengiriman Mei ditutup melorot 18 dolar AS menjadi 1.700,75 dolar AS per bushel.

Laporan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) yang menunjukkan penjualan ekspor mingguan kedelai turun menjadi 399.300 ton, level terendah sejak Juli dan jauh di bawah perkiraan perdagangan di kisaran 800.000 hingga 2,1 juta ton, membebani harga.

Tetapi pengumuman terpisah USDA yang menunjukkan eksportir swasta melaporkan penjualan 318.200 ton kedelai ke tujuan yang tidak diketahui menambah tekanan penurunan.

Harga jagung berjangka CBOT untuk kontrak pengiriman Mei menyusut 9,50 dolar AS menjadi 748,25 dolar AS per bushel.

Baca Juga: Dihujani Aksi Ambil Untung, Harga Kedelai Berjangka Tersungkur
Permintaan Ekspor Tetap Kuat, Harga Kedelai Naik ke Level Tertinggi 1 Bulan

Penjualan ekspor jagung mingguan mencapai 985.600 ton, mendekati perkiraan terendah untuk 900.000 hingga 2,2 juta, dan penjualan ekspor gandum mencapai 523.000 ton dibandingkan ekspektasi 200.000 hingga 900.000.

“Pekan ini eksportir tampaknya menyadari masih ada jagung di luar sana yang ditawarkan lebih murah daripada (pasokan) AS,” kata Charlie Sernatinger, analis ED&F Man Capital.

Video Terkait

[embedded content]