Luncurkan E-Cacao App, Mentan Akui CROWDE Dukung Keberlanjutan Petani Coklat

Belajar Bertani

Luncurkan E-Cacao App, Mentan Akui CROWDE Dukung Keberlanjutan Petani Coklat

Siapa yang nggak suka cemilan manis? Apalagi coklat (kakao), mulai dari anak-anak sampai orang dewasa pasti menyukainya. Apalagi coklat dipercaya mampu meredakan stres dan memunculkan rasa bahagia bagi mereka yang mengkonsumsinya. Tapi kamu tahu nggak? Ternyata Indonesia termasuk penghasil coklat terbesar ketiga di dunia, lho! Setiap tahunnya, Indonesia berhasil memproduksi biji kakao sebanyak 600.000 ton dengan luas lahan perkebunan mencapai 1.709.050 ha dan terus meningkat. Namun, potensi sebagus ini masih saja menemukan berbagai tantangan di lapangan. Seperti, sulitnya memperoleh modal budidaya, kualitas SDM yang rendah, infrastruktur yang lemah, ditambah rendahnya nilai mutu kakao produksi Indonesia. Nah, untuk mengatasi berbagai masalah tersebut, ada strategi yang bisa dilakukan. Apa saja? Berikut CROWDE kasih bocorannya, simak, yuk!

Program Gerakan Kakao Nasional

Program ini jelas dimaksudkan untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil kakao nasional. Bagaimana caranya? Ya, agar produksi meningkat, luas lahan tanam juga harus ditingkatkan. Pemerintah telah mencanangkan lahan seluas 450.000 ha yang fokus untuk produksi kakao di Indonesia. Di lahan tersebut juga akan dilakukan proses peremajaan tanaman kakao, rehabilitasi lahan dan insentif melalui pemberian bantuan berupa bibit unggul, pupuk, dan sarana produksi lainnya.

Mengupayakan Inovasi Produk Berbahan Dasar Kakao

Agar daya saing dapat meningkat, pengusaha kakao dituntut untuk tidak hanya mengekspor dalam bentuk biji kakao, namun juga produk olahannya. Sebut saja seperti cocoa powder, cocoa butter, cocoa cake, sampai cocoa liquor. Dari sisi pabean juga diharapkan, besar tarif bea keluar kakao dalam bentuk produk olahan lebih murah ketimbang produk mentahnya. Dengan begitu, dapat mendorong para pelaku di industri ini untuk terus berinovasi menciptakan produk-produk berbahan dasar coklat yang bisa laku di pasar internasional. Otomatis serapan tenaga kerjanya juga jadi ikut meningkat.   

Meningkatkan Kualitas SDM (Petani) Kakao

Petani kakao merupakan aktor utama di industri ini. Itu mengapa, keterampilan dan kemampuan petani harus ditingkatkan. Misal dengan melakukan penyuluhan, workshop, hingga training. Nah, sejalan dengan strategi ini, CROWDE menggandeng IFC untuk berkolaborasi meningkatkan kualitas petani kakao di Indonesia. Apa yang kami lakukan? Ini dia jawabannya!

CROWDE dan IFC memberi pendampingan kepada petani kakao, menyalurkan permodalan, mengajarkan literasi keuangan, serta mendorong mereka untuk menerapkan budidaya berbasis good agricultural practices. Dengan menyasar wilayah penghasil kakao terbesar di Indonesia, seperti Sulawesi Selatan dan Lampung Timur – CROWDE berupaya membentuk closed-loop ecosystem dengan melibatkan PT OLAM Indonesia sebagai buyer/offtaker dari hasil produksi mitra petani. Tidak hanya itu, kami juga mengembangkan digital farmer training platform berupa aplikasi E-Cacao.

Aplikasi ini dibuat untuk mengenalkan platform digital ke para petani agar mereka dapat memperoleh ilmu/informasi berguna kapan saja dan dimana saja. E-Cacao telah dirilis pada 16 Desember 2021 lalu dengan melibatkan Menteri Pertanian sebagai bentuk dukungan dari pemerintah. Pada aplikasi E-Cacao terdapat berbagai modul pembelajaran. Masing-masing petani dapat menyelesaikan satu sub-modul dan berpindah ke yang lainnya. Namun sebelum memulainya, petani diminta mengikuti pra-assessment untuk menilai kemampuan petani sebelum pembelajaran dimulai. Setelah menyelesaikan pra-assessment, petani diarahkan untuk memeriksa jawaban dan baru kemudian bisa masuk ke materi pembelajaran yang sudah dilengkapi dengan fitur AR (Augmented Reality) dan pengisi suara, agar lebih mudah dimengerti karena memberi contoh nyata di lapangan. Setiap selesai mengikuti satu sub-modul, petani akan diberikan pre-assessment lagi untuk memastikan tingkat pemahaman mereka atas materi yang diberikan. Setelah petani dinyatakan lulus, mereka akan memperoleh e-certificate dan lencana sebagai tanda atas keberhasilan menyelesaikan pembelajaran.    

CROWDE dan IFC berharap bisa ikut memberi solusi atas permasalahan yang masih dihadapi industri ini. Dengan kualitas SDM yang meningkat, diharap mampu memunculkan persaingan sehat yang memacu mereka untuk terus berkembang dan membuat eksistensi komoditas coklat Indonesia makin bersinar di pasar dunia.